Daya Beli Turun, Sri Mulyani Justru Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh di Kuartal I-2025

5 Min Read

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan keyakinannya bahwa perayaan Idulfitri 1446 H akan memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2025. Pernyataan ini disampaikannya meskipun beberapa analisis dan hasil riset menunjukkan adanya penurunan daya beli masyarakat sejak awal tahun hingga menjelang Lebaran 2025.

Setelah menunaikan salat Idulfitri di Masjid Salahuddin, yang berlokasi di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, pada Senin (31/3/2025), Sri Mulyani menyampaikan harapannya bahwa kegiatan ekonomi akan meningkat selama libur Lebaran, khususnya di daerah-daerah tujuan mudik. “Semoga dampaknya positif bagi perekonomian. Momentum Lebaran biasanya mendorong aktivitas ekonomi di berbagai wilayah, terutama di lokasi yang menjadi tujuan mudik. Hal ini diharapkan dapat menggerakkan perekonomian daerah,” ujarnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan bahwa peningkatan ekonomi selama Idulfitri 2025 dapat terlihat dari konsumsi masyarakat, seperti pembelian makanan, pakaian, dan produk kecantikan. Selain itu, sektor pariwisata dan kuliner juga diperkirakan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, destinasi wisata seperti Dusun Bambu di Bandung melaporkan kenaikan jumlah pengunjung. “Sebelum Lebaran, saya mengunjungi Dusun Bambu dan diberitahu bahwa jumlah pengunjung selama periode Lebaran bisa mencapai 17.000 orang per hari,” tambahnya.

Sri Mulyani juga meyakini bahwa dampak positif Lebaran akan tercermin dalam data ekonomi kuartal I/2025. “Saya berharap pusat-pusat aktivitas ekonomi tempat masyarakat berkumpul akan memberikan dampak yang signifikan,” katanya. Optimisme ini sejalan dengan proyeksi pemerintah yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2025 mencapai 5%, didorong oleh momentum Ramadan dan Lebaran.

Indikator Ekonomi dan Tantangan yang Dihadapi

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyatakan bahwa indikator makroekonomi seperti inflasi dan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur masih menunjukkan tren positif pada Januari 2025. Ia berharap tren ini berlanjut hingga Februari. Namun, Susi mengakui bahwa banyak pengamat memberikan catatan terkait kinerja ekonomi dalam dua bulan tersebut. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi di Maret, yang bertepatan dengan bulan Ramadan. “Kami akan berusaha mencapai pertumbuhan 5% di Maret ini,” ujarnya.

Penurunan Daya Beli dan Efisiensi Anggaran

Di sisi lain, Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menyoroti penurunan daya beli masyarakat, terutama di kalangan menengah ke bawah, akibat tekanan pendapatan. Core mencontohkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor manufaktur, seperti yang dialami oleh 10.655 pekerja PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Selain itu, kesulitan mencari pekerjaan yang layak bagi pekerja kerah putih juga turut menekan pendapatan. “Lambatnya pertumbuhan upah riil di sektor industri, perdagangan, pertanian, dan jasa semakin membebani rumah tangga pekerja,” tulis Core dalam laporannya.

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan bahwa efisiensi anggaran pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto turut memengaruhi konsumsi selama Lebaran 2025. Berdasarkan perbandingan data tahun sebelumnya, Indef memprediksi penurunan konsumsi rumah tangga di seluruh provinsi, dengan penurunan terbesar terjadi di Banten sebesar 1,4%. “Ini menunjukkan bahwa konsumsi di hampir semua daerah terhambat,” jelas Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman.

Direktur Pengembangan Big Data Indef, Eko Listiyanto, memperkirakan pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya akan mencapai 4,75% (year-on-year) pada kuartal I/2025. “Pelemahan daya beli kemungkinan akan terlihat dari melambatnya laju konsumsi,” katanya.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2025

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menyatakan bahwa berkurangnya jumlah pemudik dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2025. Menurutnya, pelemahan efek Ramadan dan Lebaran sebenarnya telah terlihat sejak tahun lalu, tetapi pada 2024, dampaknya terimbangi oleh aktivitas Pemilu sehingga ekonomi tumbuh 5,11%. “Tahun ini, pertumbuhan ekonomi kuartal I mungkin hanya mencapai 5,0% dengan margin yang sangat tipis,” ujarnya.

Dengan berbagai faktor yang memengaruhi, optimisme pemerintah dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat akan menjadi penentu utama arah pertumbuhan ekonomi Indonesia di awal tahun 2025.

Share This Article