Saham Jepang Masuk Zona Bearish, Sektor Perbankan Anjlok Akibat Kekhawatiran Tarif

4 Min Read

Pasar saham Jepang mengalami kejatuhan signifikan pada hari Jumat, mencapai level terendah sejak Agustus tahun lalu. Penurunan tajam ini menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir, dipicu oleh kekhawatiran akan resesi global setelah Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan tarif perdagangan besar-besaran.

Indeks Nikkei 225 ditutup melemah 2,75%, mencatat penurunan mingguan sebesar 9%. Ini merupakan penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2020. Selama sesi perdagangan, indeks ini bahkan sempat menyentuh level terendahnya sejak awal Agustus.

Sejak mencapai puncaknya pada Juli lalu, Nikkei 225 telah turun hingga 20%, yang menurut beberapa definisi pasar, menandakan bahwa indeks ini telah memasuki zona pasar bearish.

Dampak Kebijakan Tarif Trump

Aksi jual besar-besaran di pasar saham Jepang dipicu oleh keputusan Trump pada hari Rabu yang menerapkan hambatan perdagangan paling ketat dalam lebih dari satu abad. Keputusan ini membuat investor berbondong-bondong mencari aset yang lebih aman, seperti yen, yang justru menambah tekanan pada saham Jepang.

Sektor perbankan menjadi yang paling terpukul akibat ketidakpastian ini. Kekhawatiran bahwa kebijakan tarif tersebut dapat menghambat pertumbuhan ekonomi memunculkan spekulasi bahwa Bank of Japan (BOJ) mungkin akan menunda kenaikan suku bunga.

Indeks saham perbankan Jepang (.IBNKS.T) mengalami penurunan lebih dari 8% pada hari Jumat, dan secara keseluruhan turun 20% dalam seminggu—kinerja mingguan terburuk yang pernah tercatat, menurut data dari LSEG.

Sementara itu, indeks saham yang lebih luas, Topix (.TOPX), ditutup melemah 3,3% dan mencatat penurunan mingguan sebesar 10%, yang juga menjadi penurunan mingguan terdalam sejak Maret 2020.

Saham Perbankan Terpukul Paling Parah

Sebelumnya, saham bank-bank Jepang sempat menarik minat investor yang bertaruh pada kenaikan suku bunga BOJ. Namun, hampir seluruh 33 sub-indeks industri di Bursa Efek Tokyo mengalami penurunan pada hari Jumat, dengan sektor perbankan menjadi yang paling buruk.

Saham Mitsubishi UFJ Financial Group (8306.T), salah satu grup perbankan terbesar di Jepang, merosot hingga 11,6%, yang merupakan penurunan harian terdalam sejak 5 Agustus.

Kei Okamura, manajer portofolio di Neuberger Berman Tokyo, mengatakan bahwa sebelum pengumuman tarif Trump, pasar sudah mengalami tren kenaikan yang cukup tajam. Ia menambahkan bahwa hedge fund tampaknya memiliki eksposur besar terhadap sektor perbankan, sehingga volatilitasnya semakin tinggi.

“Kebijakan tarif Trump menciptakan ketidakpastian terhadap pergerakan mata uang yen dan kebijakan BOJ ke depan,” ujarnya. “Ketidakpastian ini membuat pasar bereaksi tidak hanya pada imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB), tetapi juga pada sektor perbankan.”

Sikap BOJ dan Dampak Global

Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, mengatakan bahwa bank sentral akan menganalisis dampak tarif AS terhadap perekonomian Jepang sebelum mengambil keputusan terkait kebijakan moneter. Ia memperingatkan bahwa tarif yang lebih tinggi kemungkinan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan domestik.

Pasar saham Wall Street juga ikut tertekan, dengan indeks utama AS mencatat kerugian harian terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 kehilangan nilai pasar gabungan sebesar $2,4 triliun.

Takamasa Ikeda, manajer portofolio senior di GCI Asset Management, memperkirakan bahwa indeks Nikkei masih berpotensi turun lebih dalam akibat kombinasi dua faktor utama, yaitu kebijakan tarif dan penguatan yen. Ia memprediksi bahwa indeks ini bisa jatuh hingga 32.000 pada bulan ini.

Share This Article