Apple dalam Tekanan: Dampak Tarif Baru Trump terhadap Rantai Pasokan Global

4 Min Read
Apple Inc. (AAPL)

Apple Inc. (AAPL) kembali menghadapi tantangan besar akibat kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump. Meskipun perusahaan telah berupaya selama bertahun-tahun untuk melindungi rantai pasokannya dari dampak perang dagang dan gangguan produksi, tarif baru ini berpotensi mengguncang stabilitas bisnis raksasa teknologi tersebut.

Pemerintah AS mengungkap daftar tarif balasan terhadap berbagai negara, dengan China terkena dampak paling besar. Tarif sebesar 34% yang dikenakan pada produk asal China akan menaikkan total beban pajak impor menjadi 54%. Kebijakan ini memberikan tekanan besar pada rantai pasokan Apple, yang masih bergantung pada China sebagai pusat produksi utama.

Namun, upaya Apple untuk mendiversifikasi produksi ke luar China pun tidak sepenuhnya kebal dari dampak tarif ini. Negara-negara lain yang menjadi pusat manufaktur Apple juga terkena kebijakan serupa:

  • India: Negara yang semakin menjadi pusat produksi iPhone dan AirPods ini akan dikenakan tarif 27%.
  • Vietnam: Lokasi produksi AirPods, iPad, Apple Watch, dan Mac akan menghadapi tarif sebesar 46%.
  • Malaysia: Produksi Mac di negara ini akan dikenakan tarif 24%.
  • Thailand: Salah satu negara tempat perakitan Mac juga mendapat beban tarif 37%.
  • Irlandia: Bagian dari Uni Eropa, tempat Apple memproduksi beberapa model iMac, akan terkena tarif 20%.

Kebijakan ini memicu kekhawatiran besar di kalangan investor, yang langsung bereaksi terhadap potensi dampak negatif terhadap profitabilitas perusahaan. Saham Apple mengalami penurunan tajam sebesar 8,5% di awal perdagangan New York pada hari Kamis, menghapus nilai pasar sebesar $255 miliar. Sebelumnya, saham perusahaan sudah merosot 11% sepanjang tahun ini, sejalan dengan tren pelemahan di sektor teknologi secara lebih luas.

Apple bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang terdampak. Dell Technologies Inc. (DELL), yang memiliki salah satu jaringan pasokan terbesar di industri, mengalami penurunan saham hingga 15%. Sementara itu, Logitech International SA (LOGN), perusahaan elektronik asal Swiss dengan mayoritas penjualan di AS, juga mengalami penurunan 15% dalam perdagangan di Zurich—penurunan terbesar dalam lebih dari dua tahun terakhir.

Pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, CEO Apple, Tim Cook, berhasil meyakinkan pemerintah untuk mengecualikan iPhone dan beberapa produk lain dari tarif impor. Cook berargumen bahwa kebijakan tarif akan lebih merugikan perusahaan AS dibandingkan pesaing seperti Samsung dari Korea Selatan. Namun, kali ini, tarif yang lebih luas diperkirakan akan menekan margin keuntungan Apple. Para analis dari Bloomberg Intelligence menyatakan bahwa Apple kemungkinan besar tidak akan menaikkan harga produknya untuk menutupi biaya tambahan ini, mengingat kondisi pasar yang sedang melemah.

Untuk mengurangi dampak kebijakan ini, Apple baru-baru ini berupaya mendekati pemerintahan Trump dengan mengumumkan rencana investasi senilai $500 miliar di AS selama empat tahun ke depan. Langkah ini mencakup produksi server berbasis AI di Texas serta produksi chip dalam skala kecil di fasilitas baru di Arizona.

Namun, secara keseluruhan, Apple masih memiliki ketergantungan yang besar pada manufaktur luar negeri. Satu-satunya perangkat yang secara resmi diproduksi di AS adalah Mac Pro, yang dijual mulai dari $6.999. Namun, model ini hanya diproduksi dalam jumlah terbatas, dengan banyak komponennya tetap diimpor dari China dan negara lain.

Dengan ketidakpastian global yang meningkat, langkah Apple selanjutnya dalam merespons kebijakan perdagangan baru ini akan sangat menentukan masa depan rantai pasokannya dan daya saing produknya di pasar global.

Share This Article