Domino Effect Tarif Trump: S&P 500 Jatuh Terdalam Sejak 2022, Resiko Resesi Membesar

3 Min Read

Indeks S&P 500 di Bursa Saham New York mengalami penurunan drastis senilai sekitar US$2 triliun dalam satu hari perdagangan. Gejolak ini dipicu kekhawatiran investor menyusul pengumuman kebijakan tarif impor terbaru oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kebijakan proteksionis tersebut memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham perusahaan yang bergantung pada rantai pasok manufaktur global.

Apple Inc., yang memproduksi sebagian besar produknya di China untuk pasar AS, tercatat merosot hingga 9,5%. Sementara itu, saham perusahaan pakaian seperti Lululemon Athletica Inc. dan Nike Inc. turun lebih dari 12% akibat ketergantungan mereka pada jaringan produksi di Vietnam, yang terkena tarif impor balasan sebesar 46%. Perusahaan ritel seperti Target Corp. dan Dollar Tree Inc. juga ikut terpuruk dengan penurunan lebih dari 10% karena ketergantungan mereka pada produk impor.

Dampak Luas Kebijakan Tarif

Menurut Bloomberg, hampir seluruh sektor di pasar saham AS terdampak oleh kebijakan Trump. Koreksi S&P 500 kali ini bahkan menjadi yang terbesar sejak 2022. Lebih dari 80% perusahaan dalam indeks tersebut mengalami penurunan, dengan hampir dua pertiga sahamnya anjlok minimal 2%.

Garrett Melson, ahli strategi portofolio di Natixis Investment Managers Solutions, menyatakan, “Tidak ada sektor yang benar-benar aman. Hari ini, kami menyaksikan aksi jual massal di mana investor mengurangi eksposur risiko secara menyeluruh.”

Ancaman terhadap Ekonomi Global

Kebijakan tarif ini diprediksi berdampak lebih besar dibandingkan langkah serupa pada masa pemerintahan Trump sebelumnya. Selain mengganggu rantai pasok global, kebijakan ini berpotensi memperburuk perlambatan ekonomi dan mendorong inflasi.

Citigroup dalam analisisnya memperingatkan bahwa margin laba Apple bisa tergerus hingga 9% jika perusahaan tersebut menanggung kenaikan biaya akibat tarif terhadap produk China. Sementara itu, Michael Feroli, ekonom JPMorgan, menyebut kebijakan ini setara dengan kenaikan pajak terbesar sejak 1968. Ia memperkirakan inflasi AS bisa naik 1,5% pada 2025, yang berpotensi mengurangi pendapatan rumah tangga dan konsumsi.

“Dampaknya saja bisa mendekatkan ekonomi AS ke jurang resesi, belum termasuk penurunan ekspor dan investasi,” ujar Feroli.

Sektor Teknologi dan Industri Terpukul Keras

Indeks Semikonduktor Philadelphia anjlok lebih dari 6%, dengan saham Micron Technology Inc. dan Broadcom Inc. masing-masing turun 11% dan 7%. Perusahaan seperti Caterpillar Inc. dan Boeing Co., yang mengandalkan pendapatan dari China, juga terkoreksi lebih dari 6%.

Apple, sebagai salah satu perusahaan terbesar dalam kelompok Magnificent Seven (termasuk Tesla, Microsoft, Nvidia, Alphabet, Amazon, dan Meta Platforms), kehilangan valuasi pasar sekitar US$275 miliar. Padahal, kelompok inilah yang menjadi penggerak utama kenaikan pasar saham AS dalam dua tahun terakhir.

Prospek Pasar yang Suram

Bhanu Baweja dari UBS Group AG memperingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan tarif dapat menekan S&P 500 hingga di bawah level 5.000 jika negosiasi dengan mitra dagang tidak berjalan baik. “Risiko pasar saham AS memasuki fase bearish semakin tinggi,” tulisnya dalam laporan kepada klien.

Dengan ketegangan perdagangan yang belum mereda, investor bersiap menghadapi volatilitas lebih lanjut di pasar keuangan global.

Share This Article