Efek Pelemahan Rupiah: Indofood (INDF) Rugi Rp 119 Miliar di Akhir 2024

3 Min Read

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), salah satu perusahaan terbesar di sektor makanan dan minuman di Indonesia, mencatatkan laba bersih sebesar Rp 8,6 triliun sepanjang tahun 2024, tumbuh 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, hasil ini ternyata lebih rendah dari perkiraan pasar, hanya mencapai 89% dari proyeksi Stockbit dan 85% dari konsensus analis.

Kinerja Kuartal IV-2024: Rugi Akibat Fluktuasi Kurs dan Penurunan Nilai Investasi

Meski secara keseluruhan laba tahunan meningkat, Indofood justru mencatat kerugian bersih sebesar Rp 119 miliar pada kuartal IV-2024. Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan meraih laba Rp 1,1 triliun, dan di kuartal III-2024, labanya mencapai Rp 4,9 triliun.

Menurut Edi Chandren, Investment Analyst Lead Stockbit Sekuritas, kerugian tersebut terutama disebabkan oleh dua faktor:

  1. Kerugian kurs akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang mencapai Rp 2,9 triliun.
  2. Penurunan nilai investasi di entitas asosiasi, khususnya Dufil Prima Foods Plc (DPFP) di Nigeria, yang mengalami kerugian Rp 1,5 triliun akibat krisis mata uang naira.

Kinerja Operasional Tetap Solid Didukung Segmen Agribisnis

Di tengah kerugian bersih, kinerja operasional Indofood justru menunjukkan pertumbuhan positif. Laba usaha pada kuartal IV-2024 naik 18% secara tahunan (yoy) dan 25% secara kuartalan (qoq), menjadi Rp 6,6 triliun. Sepanjang 2024, laba usaha perusahaan mencapai Rp 22,8 triliun, meningkat 16% yoy.

Pendapatan kuartal IV tumbuh 4% yoy, didukung efisiensi biaya operasional, termasuk penurunan beban penjualan (3% yoy) dan beban umum & administrasi (27% yoy).

Dukungan Segmen Agribisnis
Sektor agribisnis menjadi penyumbang utama laba usaha dengan pertumbuhan 84% yoy dan 88% qoq, mencapai Rp 1,8 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan tingginya harga minyak sawit mentah (CPO).

Sementara itu, segmen consumer branded products (melalui anak usaha ICBP) mencatat pertumbuhan laba usaha yang relatif datar di kuartal IV (+1% yoy), meski secara tahunan masih tumbuh 9%.

Prospek dan Rekomendasi Saham di Sektor Konsumer

Memasuki Ramadan 2025, emiten konsumer seperti Indofood berpeluang meningkatkan penjualan seiring peningkatan daya beli masyarakat. Namun, persaingan ketat dan fluktuasi harga komoditas tetap menjadi tantangan bagi margin keuntungan.

BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi “buy” untuk lima saham konsumer, termasuk:

  • ICBP (target harga Rp 14.000)
  • INDF (target harga Rp 8.800)
  • KLBF, MYOR, dan SIDO

Analis memproyeksikan bahwa emiten FMCG tetap akan mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat, meski harus menghadapi volatilitas pasar dan risiko nilai tukar.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Share This Article