Ekspansi Smelter & Penjualan Nikel: Vale Indonesia (INCO) Diproyeksi Melesat di 2025

3 Min Read
Pabrik Pengolahan Nikel PT Vale Indonesia

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja keuangan pada 2025, seiring dengan mulai dicatatkannya penjualan nikel ore. Perusahaan menargetkan penyelesaian tiga smelter nikel berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) dalam periode 2025-2026.

VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menyatakan bahwa ekspansi proyek baru INCO akan memberikan dorongan positif terhadap kinerja perusahaan.

“Berpotensi menyumbang tambahan penjualan sebanyak 1,7 juta wet metric ton (WMT) saprolite pada 2025, yang terdiri dari 1,4 juta WMT dari Bahodopi dan 300.000 WMT dari Pomalaa,” ujar Oktavianus, Rabu (2/4).

Analis Buana Capital, Dennis Tay, menambahkan bahwa INCO diproyeksikan mulai mencatatkan penjualan bijih limonit sekitar 5,3 juta WMT pada 2025, dengan potensi tambahan pendapatan sebesar US$85 juta dalam periode tersebut.

Stabilitas Bisnis Nikel Matte dan Tantangan Biaya Produksi

Sementara itu, bisnis nikel matte INCO diperkirakan tetap stabil dengan produksi tahunan sekitar 70.000 metrik ton (MT) serta proyeksi rata-rata harga jual (Average Selling Price/ASP) sebesar US$12.700 per ton.

“Dari sisi biaya, kami tetap optimis bahwa INCO dapat mempertahankan biaya tunai di bawah US$10.000 per ton,” kata Dennis.

Namun, Oktavianus memperingatkan adanya potensi kenaikan beban biaya bagi INCO akibat lonjakan tarif bijih nikel sebesar 4%-9%. Selain itu, risiko lain yang dihadapi adalah kemungkinan penurunan harga nikel jika permintaan baterai kendaraan listrik (EV battery) melemah dan produksi nikel Indonesia tidak mengalami pemangkasan, yang berpotensi menekan pendapatan perseroan.

Di samping itu, meningkatnya kebutuhan batubara di tengah harga yang stagnan juga dapat menambah beban biaya operasional INCO.

Proyeksi Pendapatan dan Rekomendasi Saham

Terlepas dari tantangan tersebut, Oktavianus tetap memperkirakan bahwa INCO mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 3,9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp15,9 triliun pada 2025, didorong oleh peningkatan produksi dari proyek Bahodopi dan Pomalaa.

Dennis juga memproyeksikan pertumbuhan kinerja INCO, dengan pendapatan tumbuh 2,52% YoY menjadi US$974 juta, sementara laba bersih melonjak 24,13% YoY menjadi US$72 juta.

Dengan fundamental yang solid, Buana Capital mempertahankan rating hold dengan target harga Rp2.720 per saham, sementara Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp2.740 per saham.

Share This Article