Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan sebesar 8% pada Jumat (4/4), mendekati level terendah sejak pertengahan 2021 saat pandemi masih berlangsung. Penurunan ini dipicu oleh respons China terhadap kebijakan tarif impor tinggi Amerika Serikat (AS) yang baru saja diumumkan.
China menyatakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 34% pada semua produk impor dari AS mulai 10 April. Langkah ini merupakan balasan atas keputusan AS menaikkan bea masuk ke level tertinggi dalam lebih dari seratus tahun, yang telah memicu ketidakstabilan di pasar keuangan global.
Pada perdagangan Jumat (4/4), harga minyak Brent turun US$4,70 (6,7%) menjadi US$65,44 per barel pukul 13:14 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS anjlok US$5 (7,5%) ke US$61,95 per barel. Di awal sesi, kedua jenis minyak tersebut bahkan sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun, dengan Brent di US$64,15 dan WTI di US$60,81 per barel.
Kedua patokan minyak tersebut juga mencatat penurunan mingguan terbesar dalam persentase selama lebih dari dua tahun terakhir.
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, menyatakan bahwa langkah balasan China terhadap kebijakan tarif AS semakin memperkuat kekhawatiran akan terjadinya perang dagang global. “Perang dagang tidak akan menghasilkan pemenang, melainkan justru memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan komoditas utama seperti minyak mentah dan produk olahannya,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.
Faktor lain yang memperburuk tekanan pada harga minyak adalah keputusan OPEC+ (Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya) untuk mempercepat rencana peningkatan produksi. Kelompok ini kini menargetkan penambahan pasokan sebesar 411.000 barel per hari (bph) pada Mei, jauh lebih tinggi dari rencana awal yang hanya 135.000 bph.
Meskipun impor minyak, gas, dan produk olahan dikecualikan dari kebijakan tarif baru AS, langkah tersebut tetap berpotensi memicu inflasi, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan memperburuk ketegangan perdagangan—yang pada akhirnya berdampak negatif pada harga minyak.
Merespons situasi ini, analis Goldman Sachs memangkas proyeksi harga minyak untuk Desember 2025. Mereka menurunkan target harga Brent dan WTI masing-masing sebesar US$5 menjadi US$66 dan US$62 per barel.
“Risiko terhadap proyeksi harga minyak kami kini lebih condong ke arah penurunan, terutama untuk tahun 2026, mengingat meningkatnya potensi resesi dan pasokan OPEC+ yang lebih tinggi,” jelas Daan Struyven, analis Goldman Sachs.
Sementara itu, HSBC juga merevisi perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2025 dari 1 juta bph menjadi 900.000 bph, dengan alasan dampak tarif dan kebijakan produksi OPEC+.
Dengan berbagai faktor ini, pasar minyak global diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas dalam beberapa waktu ke depan.