Perusahaan tambang emas yang merupakan bagian dari Grup Bakrie dan Grup Salim, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), mencatat pertumbuhan kinerja yang impresif sepanjang 2024. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan induk mencapai US$24,40 juta, mengalami lonjakan 75,35% dari US$13,91 juta pada 2023.
Namun, meskipun menunjukkan peningkatan laba, saham BRMS mengalami tekanan di pasar. Pada penutupan sebelum libur Lebaran 2025, harga sahamnya berada di level Rp332 per lembar, turun 17,41% sejak awal tahun (year to date/YtD). Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir.
Pertumbuhan Pendapatan yang Signifikan
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, BRMS membukukan pendapatan sebesar US$162,34 juta pada 2024, mengalami lonjakan 248,10% dibandingkan dengan US$46,63 juta di tahun sebelumnya. Sumber utama pendapatan berasal dari penjualan emas dan perak.
Penjualan emas menjadi kontributor terbesar dengan nilai transaksi mencapai US$158,74 juta, naik 251,14% dibandingkan US$45,20 juta pada 2023. PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) menjadi pelanggan terbesar dengan pembelian senilai US$138,65 juta, meningkat tajam dari US$26,69 juta pada tahun sebelumnya. Kontribusi HRTA mencapai 87,34% dari total penjualan emas BRMS.
Selain emas, penjualan perak juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai US$3,60 juta pada 2024 dari hanya US$430.423 di 2023. Pembeli terbesar perak BRMS adalah PT Garuda International Multitrade dengan transaksi sebesar US$1,20 juta, disusul HRTA yang membeli senilai US$582.865.
Peningkatan Beban dan Kenaikan Laba
Seiring dengan lonjakan pendapatan, beban pokok BRMS juga meningkat, mencapai US$82,67 juta pada 2024 dari sebelumnya US$20,38 juta di 2023. Biaya pertambangan menjadi faktor utama dengan kenaikan signifikan dari US$4,39 juta menjadi US$59,49 juta. Selain itu, pembayaran royalti kepada pemerintah juga naik dari US$3,61 juta menjadi US$16,05 juta.
Meski ada kenaikan beban, laba kotor BRMS tetap menunjukkan pertumbuhan luar biasa, mencapai US$79,66 juta pada 2024 atau naik 203,41% dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah memperhitungkan beban pajak dan lainnya, laba bersih perusahaan tercatat sebesar US$24,40 juta.
Dari sisi neraca keuangan, total aset BRMS meningkat menjadi US$1,15 miliar, naik 4,53% dibandingkan akhir 2023. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan liabilitas menjadi US$160,40 juta atau naik 18,36%, sementara ekuitas tumbuh 2,59% menjadi US$994,46 juta.
Rencana Ekspansi dan Target Produksi Emas
BRMS terus memperluas cakupan operasionalnya. Direktur & Chief Financial Officer BRMS, Charles Gobel, menyatakan bahwa kinerja keuangan perusahaan membaik karena peningkatan produksi emas dan harga jual yang lebih tinggi.
Sementara itu, Direktur Utama & CEO BRMS, Agus Projosasmito, mengungkapkan bahwa perusahaan memperluas kerja sama dengan PT Macmahon Indonesia dalam pengelolaan tambang emas di Poboya, Palu. “Kami sedang mengembangkan metode penambangan bawah tanah yang ditargetkan mulai produksi pada 2027 dengan kadar emas yang lebih tinggi,” ujarnya.
Secara keseluruhan, produksi emas BRMS mencapai 64.983 ons pada 2024, melonjak dari 23.270 ons di tahun sebelumnya. Target produksi untuk 2025 dipatok di atas 75.000 ons emas.
Peran Bullion Bank dalam Permintaan Emas
Salah satu faktor eksternal yang berpotensi mendorong kinerja BRMS adalah kehadiran bullion bank di Indonesia. Direktur & Chief Investor Relations BRMS, Herwin Hidayat, menyebutkan bahwa bullion bank dapat meningkatkan permintaan emas sebagai produk investasi, perdagangan, dan simpan pinjam.
Saat ini, seluruh produksi emas BRMS yang dikelola oleh anak usahanya, Citra Palu Minerala, dijual untuk pasar domestik. Pembeli utama meliputi PT Aneka Tambang, PT Bhumi Satu Inti, dan PT Hartadinata Abadi, dengan harga jual yang mengacu pada standar London Bullion Market Association (LBMA).
Herwin menambahkan bahwa BRMS menargetkan produksi tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, mulai semester II/2027 dengan kadar emas di atas 3,5 g/t. “Kami optimis produksi emas akan meningkat signifikan pada akhir 2027 atau awal 2028,” ujarnya.
Dengan kinerja yang solid dan prospek yang menjanjikan, BRMS optimistis dapat terus meningkatkan pertumbuhan bisnisnya di tahun-tahun mendatang.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.