Lulu Hypermarket atau PT Lulu Group Retail di Cakung, Jakarta Timur, dikabarkan akan segera menutup operasionalnya secara permanen. Isu ini mulai ramai dibicarakan di media sosial X (Twitter) setelah banyak pengunjung melaporkan bahwa rak-rak toko terlihat kosong tanpa stok barang.
Berdasarkan kunjungan ke lokasi, terlihat bahwa sebagian besar produk telah habis terjual, dan AC tidak dinyalakan, membuat suasana di dalam gerai terasa panas. Salah seorang pengunjung, yang enggan disebutkan namanya, mengaku telah mendengar kabar penutupan ini sejak sebelum Lebaran 2025.
“Sebelum Lebaran, sudah ada kabar bahwa toko ini akan tutup. Sekarang mereka sedang menghabiskan sisa stok barang,” ujarnya pada Rabu (2/4/2025).
Sementara itu, salah satu petugas di lokasi mengaku belum mengetahui kepastian tanggal penutupan. “Belum tahu,” jawabnya singkat.
Tantangan Bisnis Ritel Modern Pasca-Pandemi
Sejak pandemi Covid-19, sektor ritel modern menjadi salah satu yang paling terdampak. Banyak perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah gerai. Bahkan setelah pandemi berakhir, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat kebijakan pemerintah dan gelombang PHK di berbagai sektor.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) memperkirakan pertumbuhan penjualan ritel modern selama Ramadan dan Idulfitri 2025 tidak akan signifikan. Padahal, momen Lebaran biasanya menjadi puncak pembelian kebutuhan konsumen.
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Wijaja, menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan diproyeksikan di bawah 10%. “Rata-rata pertumbuhannya hanya single digit, kurang dari 10%,” jelasnya pada Selasa (18/3/2025).
Menurutnya, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah masih lemah, ditambah kebijakan penghematan anggaran pemerintah turut memengaruhi perekonomian. “Ini berdampak domino pada industri ritel,” ujarnya.
Kinerja Emiten Ritel yang Masih Berjuang
Tekanan pada bisnis ritel juga terlihat dari kinerja beberapa emiten, seperti PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA), pengelola Hypermart. Meski berhasil meningkatkan pendapatan pada 2024, perusahaan masih mencatatkan kerugian bersih.
Laporan keuangan MPPA menunjukkan penjualan bersih Rp7,11 triliun, naik 2,9% dibanding 2023. Mereka juga berhasil menghemat biaya operasional hingga Rp121 miliar dan membukukan laba usaha positif Rp33,92 miliar. Namun, rugi bersih masih tercatat Rp118,1 miliar, meski lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Adrian Suherman, Presiden Direktur dan CEO MPPA, mengatakan bahwa perusahaan terus berupaya meningkatkan efisiensi dan inovasi. “Kami akan fokus pada ekspansi strategis, transformasi digital, dan layanan berorientasi pelanggan,” ujarnya dalam rilis resmi, Kamis (27/3/2025).
Ke depan, MPPA berkomitmen memperkuat bisnis dengan memperluas jaringan e-commerce, meningkatkan ketersediaan produk pokok, serta memanfaatkan data untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat.
“Dengan strategi ini, kami siap menghadapi tantangan dan menciptakan pertumbuhan berkelanjutan di 2025,” pungkas Adrian.