Lo Kheng Hong Perkuat Portofolio dengan Akuisisi Saham GJTL Jelang Libur Lebaran

2 Min Read

Menjelang momen Idul Fitri 2025, aksi akumulasi saham GJTL oleh Lo Kheng Hong semakin intensif. Padahal, harga saham emiten produsen ban terkemuka ini justru sedang mengalami tekanan di pasar.

Berdasarkan pantauan data KSEI, pada perdagangan 24 Maret lalu, investor yang dijuluki “Oracle of Jakarta” ini menambah 300.000 lot saham GJTL. Dengan pembelian terakhir ini, total kepemilikannya kini mencapai 187,56 juta saham atau 5,38% dari total saham beredar.

Yang menarik, aksi beli LKH ini konsisten dilakukan sejak awal tahun. Catatan transaksi menunjukkan:

  • Pembelian 511.600 saham pada 13 Februari 2025
  • Akumulasi bertahap mencapai 4,99 juta saham sejak Januari

“GJTL merupakan produsen ban dengan kapasitas terbesar di ASEAN. Dengan kinerja keuangan yang solid, saya optimis perusahaan ini akan terus tumbuh,” ujar LKH dalam sebuah wawancara eksklusif awal tahun ini.

Kinerja Keuangan yang Menggiurkan

Laporan keuangan Q3 2024 GJTL memang patut diacungi jempol:

  • Laba Bersih: Rp998,55 miliar (↑41,36% YoY)
  • Pendapatan: Rp13,44 triliun (↑6,9% YoY)
  • Margin Kotor: 21,8% (meningkat dari 20,3% di 2023)

Analis memprediksi momentum positif ini akan terus berlanjut seiring:

  1. Pemulihan permintaan pasar domestik
  2. Efisiensi biaya produksi yang semakin baik
  3. Diversifikasi produk ke segmen premium

Prospek 2025: Antara Tantangan dan Peluang

Meski catatan kinerjanya cemerlang, GJTL tetap menghadapi beberapa tantangan:

  • Tekanan harga karet dunia
  • Persaingan dengan merek global
  • Volatilitas nilai tukar

Namun dengan modal kerja yang kuat (kas Rp1,04 triliun) dan struktur modal yang sehat (DER 1,18x), banyak analis yakin GJTL mampu melewati tantangan ini.

Apa artinya bagi investor?

Aksi akumulasi Lo Kheng Hong bisa menjadi sinyal penting. Sejarah membuktikan, saham-saham yang secara konsisten dibeli LKH cenderung memberikan return menarik dalam jangka menengah.

Dengan PER hanya 4x dan PBV 0,43x, GJTL masih terlihat undervalued dibandingkan kompetitor sektornya. Apakah ini akan menjadi momentum rebound setelah koreksi 10% YTD? Waktulah yang akan menjawab.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Share This Article