Jika semua berjalan sesuai rencana pada “Liberation Day” — istilah Presiden Trump untuk tarif timbal balik yang dijadwalkan pada Rabu — konfrontasi perang dagang ini akan menjadi titik awal era baru Amerika, menuju ekonomi nasionalis yang meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan negara.
Namun, bahkan jika seluruh agenda presiden berjalan mulus, ada serangkaian syarat yang harus terpenuhi agar rencana ini berhasil. Sayangnya, banyak di antaranya terlihat mustahil.
Pertama, negara-negara yang terkena tarif impor harus diam dan tidak membalas dengan tindakan yang justru menggagalkan atau mempersulit visi “America First”. Pelaksanaannya juga harus berjalan lancar, tanpa kekacauan di pelabuhan AS atau serangan balasan tarif yang sudah diprediksi.
Tarif ini, beserta segala bentuk pembalasan berikutnya, harus menjadi pengecualian sejarah ekonomi yang justru mendorong pertumbuhan — bukan malah memicu gangguan brutal bagi bisnis dan konsumen.
Di tengah perubahan kebijakan perdagangan internasional dan rusaknya hubungan dengan sekutu serta mitra dagang, pelaku bisnis harus berpikir kreatif. Sementara itu, konsumen diharapkan bersabar, mau memaafkan, dan berkorban untuk tujuan bersama. Meski Gedung Putih berargumen bahwa kenaikan harga akibat tarif hanya bersifat sementara, konsumen sudah jelas muak dengan inflasi. Mengandalkan asumsi bahwa kenaikan harga hanya sementara — dan bahwa rakyat Amerika akan menerimanya — adalah taruhan ekonomi dan politik yang berisiko. Konsumen harus bersedia bekerja sama, meski hal itu sulit dibayangkan.
“Hari Pembebasan” juga memposisikan Federal Reserve dalam situasi sulit. Jika Fed menurunkan suku bunga untuk mengatasi pertumbuhan yang melambat — skenario “terbaik” bagi Trump yang tidak ideal bagi banyak orang — bank sentral justru berisiko memicu inflasi. Dan penurunan suku bunga itu akan lebih terasa seperti operasi penyelamatan moneter, bukan langkah akhir untuk meredam gejolak ekonomi.
Selain itu, semua ini harus berujung pada peningkatan sentimen, pertumbuhan, dan keuntungan ekonomi.
Ini adalah rangkaian syarat yang sangat panjang yang harus dipenuhi oleh pemerintahan Trump. Atau, bisa dibilang, seperti harus mencetak hole-in-one beruntun. Itulah mengapa, seperti dicatat banyak ekonom, analis, dan strategis — orang-orang yang lebih peduli pada fakta daripada politik — potensi keberhasilannya terbatas, sementara risikonya sangat besar.
Bahkan jika taktik negosiasi Trump yang konfrontatif berhasil menghasilkan kesepakatan dengan mitra dagang, masih banyak hal yang harus terjadi agar pasar pulih dan bisnis serta konsumen terbebas dari kecemasan.
Tarif yang lebih terbatas pun akan datang dengan berbagai pengecualian dan syarat. Analis Wall Street dan pemimpin bisnis tetap harus menambahkan klausa “untuk saat ini” dalam penilaian mereka bahwa “ini tidak seburuk yang dikira”. Sementara itu, ketegangan yang berlarut-larut sudah menimbulkan kerugian. Pergeseran kebijakan proteksionis selama berbulan-bulan bukan hanya soal pola pikir, melainkan sudah tertanam dalam operasi dan ekspektasi bisnis.
Meski tarif 2 April sudah berlalu, ketidakpastian tidak serta-merta hilang. Selama kebijakan belum final, ancaman gangguan ekonomi tetap membayangi pasar.