Uni Eropa Siap Balas Dendam! Tarif 20% AS Picu Perang Dagang Global

4 Min Read
Ursula von der Leyen dari Uni Eropa

Uni Eropa tengah mempersiapkan langkah-langkah balasan terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menetapkan tarif sebesar 20% pada impor dari blok tersebut. Keputusan ini dinilai sebagai “pukulan besar bagi ekonomi global” oleh Komisi Eropa.

Sebagai salah satu mitra dagang utama AS, Uni Eropa menjadi pasar ekspor terbesar bagi barang-barang Amerika tahun lalu, melampaui Kanada dan Meksiko, menurut data Biro Sensus AS.

“Pengumuman Presiden Trump mengenai penerapan tarif universal terhadap seluruh dunia, termasuk Uni Eropa, merupakan pukulan besar bagi ekonomi global. Saya sangat menyesali keputusan ini,” ujar Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, pada Kamis (3/4). Ia menambahkan bahwa dampak kebijakan ini akan terasa “seketika.”

Trump pada Rabu sebelumnya mengumumkan kebijakan tarif global yang mencakup puluhan negara, mulai dari Nikaragua hingga Kamboja. Kebijakan ini juga menambah beban tarif yang sebelumnya telah diterapkan pada impor baja, aluminium, dan kendaraan bermotor.

Potensi Dampak Serius terhadap Ekonomi Global

Dalam pernyataannya di Samarkand, Uzbekistan, saat menghadiri KTT UE-Asia Tengah, von der Leyen menegaskan bahwa kebijakan ini dapat membawa dampak serius terhadap perekonomian global.

“Kita harus memahami dampak besar yang akan ditimbulkan. Ekonomi global akan sangat terpukul. Ketidakpastian akan meningkat dan memicu eskalasi proteksionisme,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan ini akan merugikan berbagai sektor bisnis, baik skala besar maupun kecil, sejak hari pertama diberlakukan. Mulai dari gangguan rantai pasokan hingga birokrasi yang semakin kompleks, kebijakan ini diprediksi akan meningkatkan biaya perdagangan dengan AS secara drastis.

“Semua pelaku usaha akan terdampak, dari ketidakpastian besar hingga meningkatnya biaya operasional akibat hambatan perdagangan yang lebih tinggi,” tambahnya.

Uni Eropa Siap Bertindak Jika Negosiasi Gagal

Meskipun Uni Eropa lebih memilih untuk bekerja sama dengan AS guna mengurangi hambatan perdagangan, von der Leyen menegaskan bahwa Eropa siap merespons jika negosiasi tidak menghasilkan solusi yang memadai.

“Kami sedang menyelesaikan paket pertama langkah-langkah balasan terhadap tarif baja, dan kini kami tengah mempersiapkan langkah tambahan untuk melindungi kepentingan serta bisnis kami jika negosiasi menemui jalan buntu,” ungkapnya.

Bulan lalu, UE telah menerapkan langkah balasan terhadap kebijakan tarif baja dan aluminium yang diberlakukan AS. Tindakan ini mencakup pengenaan tarif pada barang-barang ekspor AS senilai hingga €26 miliar ($28 miliar), termasuk kapal, bourbon, dan sepeda motor.

Dampak bagi Perdagangan UE-AS

Eskalasi ketegangan perdagangan ini membawa risiko bagi kedua belah pihak. Pada 2024, Amerika Serikat menjadi pembeli terbesar produk-produk Uni Eropa, dengan impor yang mencakup farmasi, otomotif, minuman beralkohol, dan peralatan telekomunikasi. Sementara itu, AS juga bergantung pada Uni Eropa sebagai sumber impor barang terbesar, menurut data resmi kedua belah pihak.

“Selama 80 tahun terakhir, hubungan perdagangan antara Uni Eropa dan Amerika Serikat telah menciptakan jutaan lapangan kerja. Konsumen di kedua sisi Atlantik menikmati harga yang lebih kompetitif, sementara dunia usaha mendapat manfaat dari peluang ekspansi yang besar, mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata von der Leyen.

Meski demikian, ia mengakui bahwa sistem perdagangan global memiliki kelemahan yang perlu diperbaiki.

“Saya sependapat dengan Presiden Trump bahwa ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan secara tidak adil dari aturan yang ada. Saya siap mendukung upaya reformasi guna menyesuaikan sistem perdagangan global dengan realitas ekonomi saat ini. Namun, menjadikan tarif sebagai alat utama dan satu-satunya bukanlah solusi,” tegasnya.

Von der Leyen menekankan bahwa Uni Eropa tetap terbuka untuk bernegosiasi dengan AS, tetapi juga harus mempertahankan posisinya.

“Saya memahami bahwa banyak pihak merasa kecewa dengan kebijakan sekutu tertua kita ini. Kita harus bersiap menghadapi dampaknya. Namun, Uni Eropa memiliki segala yang dibutuhkan untuk bertahan menghadapi tantangan ini. Kita akan menghadapi ini bersama. Jika Anda menyerang salah satu dari kami, berarti Anda berhadapan dengan kami semua,” pungkasnya.

Share This Article